Posted on

Mengurangi Meminimalisasi HTTP Request Secara Non-Teknis

wpJakarta – Mengurangi Meminimalisasi HTTP Request Secara Non-Teknis. Sudah fakta umum dikatakan bahwa salah satu upaya menambah page speed adalah mengurangi jumlah HTTP request. Meskipun sebenarnya hal tersebut adalah relatif, relatif artinya karena faktor pagespeed bukan hanya dari jumlah HTTP request.

wp jakarta tips-trik wordpresswp jakarta tips-trik wordpress

Kesimpulannya jika kita berupaya untuk mengurangi HTTP request maka faktor lainnya untuk mempercepat pagespeed juga harus dilakukan. Misalnya ada dua website yang dibandingkan atau diuji. Website A hosting dengan perusahaan penyedia hosting A yang berkualitas baik, sementara website B hosting dengan perusahaan hosting B dengan kualitas rendah.

Pada homepage website A terdapat 100 HTTP request dengan content gambar yang sudah di kompres. Sedangkan website B hanya memiliki 25 request. Hasilnya mungkin saja website A loading lebih cepat karena faktor kualitas dari penyedia jasa hosting tersebut dan faktor lainnya.

Secara teknis banyak cara untuk meminimalisasi http request diantaranya :

  • Meminify dan mengkombine kode (HTML, CSS, JS).
  • Mengeliminasi render blocking CSS.
  • Menunda loading kode JS.
  • Dan faktor-faktor teknikal lainnya.

Baca Juga :

Pertanyaannya, adakah cara yang dapat mengurangi atau meminimalisasi HTTP request secara non-teknis ? dalam arti tanpa harus membedah skrip kode untuk mengurangi jumlah HTTP request tersebut ? Jawabannya : Ada, secara non teknis kita dapat mengurangi http request yaitu dengan mendesain website dengan desain yang minimalis.

Mengurangi Meminimalisasi HTTP Request Secara Non-Teknis dengan mendesain website yang minimalis

Opini kami kekuatan dari sebuah blog adalah isi dari tulisannya. Dengan isi tulisan yang baik, kontekstual dan relevan. Orang akan merasa puas saat menemukan artikel tersebut dan menemukan jawaban dari apa yang dicari. Sebaliknya penulis juga merasa puas saat melihat statistik artikelnya ditemukan dan menjadi langganan bacaan orang melalui mesin pencari.

Kami beropini bahwa halaman homepage untuk website/blog yang mengandalkan kekuatan menulis tidak perlu didesain “rame” dengan banyak gambar , animasi atau icon yang tidak perlu. Karena kekuatan dari website blog tersebut ada dibalik kategori atau halaman arsipnya.

Cukup berikan desain yang minimalis pada halaman homepage, bahwa minimalis bukan berarti tidak menarik. Yang minimalis bisa saja lebih menarik jika dibandingkan dengan desain yang rame. Makin banyak gambar akan semakin banyak HTTP request yang terjadi. Semakin besar ukurannya semakin lama juga loadingnya.

Maka berikan sedikit gambar atau animasi yang kreatif tapi mencerminkan dimana blog anda berdiri (niche). Jangan lupa untuk mereduksi ukuran gambar atau animasi tersebut. Padukan warna background dengan warna teks yang kekontrasannya tidak membuat mata menjadi stress. Hingga orang akan ingin melihatnya lagi dan lagi.

Misalnya ada website yang ingin tampil clean dengan warna background murni putih (#ffffff) dan warna teks diberikan warna murni hitam (#000000). Karena ketidak-tahuannya tentang “kontras”, paduan warna tersebut sebenarnya membuat mata menjadi stress dan cepat lelah.

Minta pendapat dari orang lain

Seringkali kita berpendapat bahwa milik kita lebih unggul dari yang lainnya. Tapi mungkin tidak bagi orang lain. Coba minta orang untuk memberikan pendapatnya tentang desain website anda. Gambar, warna background, teks, heading dan lainnya. Jangan ragu untuk merubahnya jika mayoritas mengatakan “tidak oke”.

Kami pun menyadari jika website kami mungkin tidak seperti yang kami tulis diatas. Untuk itu kami berterima kasih jika anda mau memberikan input terutama jika mata anda tidak nyaman saat membaca artikel kami karena paduan warna yang tidak tepat.

Perlukah menggunakan google font dan font awesome

Untuk website atau blog baru yang hanya menginginkan trafik organik di ibaratkan seperti bayi yang sedang merangkak. Sepertinya masih belum perlu untuk menggunakan google font. Cuma yang jadi masalah adalah tema website yang digunakan seringkali secara default membawa plugin page builder.

Dan plugin page builder yang sudah membantu kita mendesain website kita menjadi minimalis, kreatif dan paduan wana yang baik seperti diutarakan di atas. Pagebuilder tentu saja menggunakan google font, font awesome atau element lainnya untuk membuat hasilnya menjadi unggul.

Tips (i) : Jika anda mendesain blog atau website dengan page builder elementor. Kita dapat menyetop elementor untuk mendownload google font. Tambahkan kode berikut pada file function.php :

 add_filter( 'elementor/frontend/print_google_fonts', '__return_false' );

Tips (ii) : Jika juga ingin menyetop elementor meloading font awesome, tambahkan juga kode berikut pada file function.php :

 add_action( 'elementor/frontend/after_register_styles',function() {
  foreach([ 'solid', 'regular', 'brands' ] as $style ) {
   wp_deregister_style( 'elementor-icons-fa-' . $style );
  }
 }, 20 );

Pengujian dengan GTmetrix dan Pingdom tools

Kami sedikit melakukan pengujian dengan GTmetrix dan pingdom tools dimana kondisi pertama elementor mendownload google font dan kondisi kedua kami aktifkan kode diatas supaya tidak mendownload google font, dengan hasilnya sebagai berikut :

Pada bagian atas adalah pengujian menggunakan tools online GTmetriks dengan elementor menggunakan google font :

  • (Google font,  Ya) Fully Loaded times : 0.8 detik, Request : 50 dan Pagesize 822KB, dan Skor : 97/83
  • (Google font, No) Fully Loaded times : 0.6 detik, Request : 27 dan Pagesize 458KB, dan Skor : 97/86

Untuk meyakinkan kami menggunakan tools.pingdom untuk uji kedua dengan hasil sebagai berikut :

  • (Google font,  Ya) Fully Loaded times : 1.6 detik, Request : 52 dan Pagesize 881.3KB, dan Skor : 76/C
  • (Google font, No) Fully Loaded times : 1.54 detik, Request : 29 dan Pagesize 491.2KB, dan Skor : 80/B

Kedua alat ukur tersebut kompak :

  • Menurunkan jumlah HTTP request sebanyak 23 request.
  • Menurunkan pagesize rata-rata 377KB.
  • Mempercepat loading rata-rata 0.04 detik.

Sebenarnya kami juga melakukan pengujian menggunakan google pagespeed (gambar tidak kami tampilkan) yang hasilnya juga selaras dengan dua alat ukur tersebut.

Kesimpulan

Kesimpulannya tentu saja kami tidak meminta anda untuk “Jangan gunakan page builder”, atau jangan gunakan google fonts. Page builder membuat pekerjaan menjadi mudah dengan hasil desain yang melimpah. Google font juga memberikan keindahan pada sektor typography.

Tapi kami lebih menekankan bahwa desain website juga harus sesuai kebutuhan. Untuk website berita atau majalah online dan toko online mungkin mengharuskan kita untuk mendisplay banyak gambar pada halaman homepage. Blog photography atau makanan juga mengharuskan untuk memberikan kualitas gambar yang bagus dan tajam untuk memanjakan mata pengguna.

Sedangkan desain website minimalis juga bukan berarti tidak menarik. Untuk blog dengan penulisan artikel yang kuat harus memanjakan mata pengunjungnya dengan paduan warna atau kontras yang baik, bahasa yang mudah dimengerti dan gambar yang sesuai. Mempercepat loading website dengan upaya mengurangi atau meminimalisasi HTTP request bukan hal yang melulu urusan teknis, secara non-teknis hal tersebut dapat dilakukan.