Posted on

Membuat Website Ngebut Bagian Ketiga

wpJakarta – Membuat Website Ngebut Bagian Ketiga. Memanage sebuah website memang sesuatu yang menantang tapi juga “seru”. Mulai dari mendesain dan menghasilkan konten. Selain itu juga harus diperhatikan tentang SEO dan tentunya soal performa. Pada artikel kami sebelumnya yaitu : Membuat Website Ngebut Bagian Pertama dan Membuat Website Ngebut Bagian Kedua.

wp jakarta tips-trik wordpresswp jakarta tips-trik wordpress

Ada masing-masing lima langkah untuk membuat website tambah “ngebut”. Dari 10 langkah pada dua artikel tersebut, rata-rata bersifat teknis. Tapi tetap saja adalah sebuah “tantangan”, apalagi jika hasilnya benar-benar dapat meningkatkan performa yang naik 0.xx atau 1 detik lebih cepat, maka hal tersebut memberikan kepuasan tersendiri. Dan berikut adalah 10 langkah yang ada pada dua artikel sebelumnya :

Pada Bagian Pertama

  1. Meminimalkan HTTP Request
  2. Meminify dan mengkombine file
  3. Load file CSS dan JS asynchronous
  4. Defer JavaScript loading
  5. Minimize TTFB atau time to first byte

Pada Bagian Kedua

  1. Mengurangi server respons time
  2. Memilih provider dan paket hosting yang tepat
  3. Melakukan Cek dan Test Kompresi file
  4. Mengkompress file dengan gzip
  5. Mengaktifkan browser caching

Membuat Website Ngebut Bagian Ketiga

Kini pada artikel ini kami sampaikan lagi lima hal lainnya yang bisa dilakukan untuk membuat performa website makin “cleng”. Lima langkah untuk membuat website ngebut yang kami rangkum pada bagian ketiga ini bisa dilakukan tanpa harus menyentuh “bagian dalam” atau skrip kode website anda.

Tapi lebih pada bagaimana memanfaatkan teknologi yang sudah ada yang diberikan sebuah layanan, sampai bagaimana mengatur konten pada sebuah artikel yang ingin ditertibkan.

11. Gunakan Layanan CDN

Langkah ini diyakini “ampuh” meningkatkan performa website. CDN memperpendek jarak akses pengunjung website dan lokasi server website berada. Mungkin perlu dipertimbangkan dulu sebelum memutuskan untuk menggunakan layanan CDN. Yaitu dimana server hosting berada dan target trafik website berasal. Karena jika lokasi server berada diindonesia dan trafik yang di harapkan juga hanya pengunjung dari indonesia lalu kenapa harus menggunakan layanan CDN yang justru layanan CDN tersebut tidak memiliki server distibusinya di indonesia.

Jika hosting website anda pada perusahaan hosting dalam negeri. Mungkin perlu di cek dimana lokasi servernya berada. Bisa saja perusahaan tersebut adalah anak perusahaan asing yang servernya bukan diindonesia, mungkin di siberia. Lalu jika ingin menggunakan CDN maka cek juga apakah CDN tersebut memiliki jaringannya di indonesia.

Asumsi diatas tentu hanya logika “kasar” semata. Perlu “hitungan” yang benar-benar teknis tentang bagaimana CDN bekerja. Teknologi apa yang diusung masing-masing perusahaan hosting atau CDN tersebut. Prinsipnya menggunakan CDN seharusnya bisa meningkatkan performa website.

Untuk memilih layanan CDN juga harus benar-benar cermat sebelum memutuskan “siapa” yang akan digunakan, cari referensi sebanyak-banyaknya. Dan yang paling penting adalah dengan melihat apakah layanan CDN tersebut memiliki infrastruktur di indonesia ? jika tidak sama juga bohong. Orang tetap akan mengakses konten anda dari negara lain yang terdapat server layanan CDN tersebut.

12. Gunakan “Hosting” Eksternal Untuk Video Dan Musik

Jika ingin menampilkan konten video, maka paling efisien dengan “mengembed” kode html kedalam halaman/konten anda. Ketimbang mengupload file video tersebut ke folder upload, akan sangat memakan bandwith hosting. Di bawah kami mengembed video dari youtube dan hasilnya tidak terlalu memberatkan page load dan hanya meningkatkan HTTP request yang masih dalam batas normal.

Ini juga bisa dilakukan jika ingin mendesain halaman homepage atau “HERO” dengan menggunakan video.

13. Perkecil ukuran gambar dan perhatikan letaknya

Gambar memang diperlukan dalam satu buah konten yang utuh. Maka menyisipkan gambar pada sebuah konten juga harus dilakukan. Tapi jangan korbankan tulisan anda yang sangat bagus dan berguna karena gambar yang disisipkan masih memilki ukuran yang besar. Sehingga orang membatalkan “kunjungan” ke halaman konten karena loadingnya yang lama untuk menampilkan gambar.

Sebelum disematkan pada konten gambar bisa diperkecil ukurannya dan di ubah dimensinya. Selain memprkecil ukuran gambar sebelum diupload, gambar yang sudah diupload juga masih bisa di “optimisasi” dengan beberapa plugin. Plus diatur bagaimana gambar tersebut ditampilkan dengan teknologi “lazy load”.

Artinya gambar tidak melulu harus diletakan di bagian kepala atau bagian atas sebuah konten. Dalam hal SEO gambar tidak mesti harus ada diatas, di tengah atau dibawah. Yang penting jangan lupa “membubuhkan” alt teks pada gambar tersebut. Lalu berikan gambar yang relevan alias nyam dengan konten. Gambar yang tidak nyambung dengan konten adalah “Mubazir”

14. Gunakan sedikit plugin

Bukan berarti untuk membatasi kemampuan website anda. Tapi beberapa plugin yang anda pasang mungkin memiliki fitur yang sama. Misalnya sampai saat ini kita masih memasang plugin “klasik editor” karena tidak terbiasa dan “malas” menggunakan gutenberg blok editor. Kenapa tidak mempelajari gutenberg untuk dua atau tiga hari, setelah benar-benar “gape” menggunakan blok editor maka anda bisa meninggalkan “klasik editor”.

Untuk satu plugin yang diinstal mungkin sebenarnya membawa banyak fitur, Tapi hanya satu atau dua fitur tersebut yang digunakan. Cobalah untuk mengeksplor semua fitur setiap plugin yang ada pada website, jika ditemukan ada fitur yang sama dari dua plugin, maka kita bisa memilih satu yang paling “oke” dan menghapus plugin yang lain.

15. Mengurangi redirect

Kita bisa mengurangi redirect pada awal-awal merancang sebuah website. Misalnya tentukan ke “arah” mana website anda akan berjalan. Tentukan dengan cermat halaman dan kategori atau tag yang dibuat sesuai dengan “niche”. Saran kami jika anda menjalankan blog secara personal dan “sendirian”, maka buatlah sitemap yang “slim” atau jangan buat terlalu banyak halaman atau kategori.

Bisa saja setelah blog atau website berjalan anda berfikir bahwa ada kategori yang tidak relevan dan harus dihapus. Celakanya kategori tersebut sudah memiliki beberapa konten. Kategori dapat dihapus dan kontenya bisa dialihkan ke kategori yang lain. Tapi konsekwensinya konten tersebut akan “mengalami” redirect dari kategori asli ke kategori barunya.